Dakwah bukan utk orang manja…..

Posted on

Dalam perjalanan ke Najed, Abu Musa Al Asy’ari RA. meriwayatkan bahwa dalam perjalanan itu kami keluar bersama Rasulullah SAW. Waktu itu kami enam orang bergiliran mengendarai satu unta. Seorang naik unta secara begilir sambil menunggu gilirannya mereka harus menempuh perjalanan yang panjang. Sehingga tapak kaki-kaki kami pecah-pecah dan kuku-kukunya pun hampir tercabut. Waktu itu kami balut kaki kami dengan cebisan kain sehingga aku menamakan peperangan itu perang Dzatur Riqaa’ (Sobekan Kain). Abu Musa Al Asy’ari menyebutkan hadits ini tetapi kemudian ia tidak menyukainya. Seolah-olah dia tidak suka untuk menceritakan pengalamannya.
Dalam riwayat Ibnu ishaq dan Ahmad dari Jabir Bin Abdullah RA. ia menceritakan, “Kami berangkat bersama Rasulullah SAW. pada perang Dzatur Riqaa’. Kerana marahkan pada tentera Islam, seorang lelaki musyrik bersumpah akan mengalirkan darah para sahabat Muhammad SAW. Pada satu lorong di suatu lembah Rasulullah SAW. bersama para sahabat berhenti”. Kemudian beliau bersabda: “Siapakah di antara kalian yang bersedia menjaga kita malam ini?”. Jabir berkata, “Maka majulah seorang dari Muhajirin dan seorang lagi dari Anshar lalu keduanya menjawab: “Kami siap untuk berjaga ya Rasulullah SAW”. Nabi Muhammad SAW. berpesan “Jagalah kami di mulut lorong ini”. Jabir menceritakan waktu itu Rasulullah SAW. bersama para sahabat berhenti di lorong suatu lembah.
“Ketika kedua orang sahabat itu keluar ke mulut lorong, sahabat Anshar berkata pada sahabat Muhajirin; “Bila engkau inginkan aku berjaga, apakah permulaan malam ataukah akhir malam?”. Sahabat Muhajirin menjawab “Jagalah kami di awal malam”. Kemudian sahabat Muhajirin itu berbaring dan tidur. Sedangkan sahabat Anshar melakukan shalat.
Jabir berkata, datanglah lelaki musyrikin itu dan ketika mengenali sahabat Anshar dia paham bahwa sahabat itu sedang bertugas jaga. Kemudian orang itu memanahnya tepat mengenai dirinya. Lalu sahabat Anshar mencabutnya kemudian berdiri tegak meneruskan shalatnya. Kemudian orang musyrikin itu memanahnya lagi dan tepat mengenainya lagi, lalu sahabat itu mencabut kembali anak panah itu kemudian berdiri tegak meneruskan shalatnya. Kemudian untuk ketiga kalinya orang itu memanah kembali sahabat Anshar tersebut dan tepat mengenai dirinya. Lalu dicabut pula anak panah itu kemudian ia rukuk dan sujud. Setelah itu ia membangunkan sahabat Muhajirin seraya berkata, “Duduklah karena aku telah dilukai”.
Jabir berkata, “Kemudian sahabat Muhajirin itu melompat mencari orang yang melukai sahabat Anshar itu. Ketika orang musyrikin itu melihat keduanya ia sadar bahwa dirinya telah diketahui maka ia pun melarikan diri. Ketika sahabat Muhajirin mengetahui darah yang melumuri sahabat Anshar, ia berkata: “Subhanallah kenapa engkau tidak membangunkan aku dari tadi?”. Sahabat Anshar menjawab, “Aku sedang membaca satu surah dan aku tidak ingin memutusnya. Namun setelah orang itu berkali-kali memanahku barulah aku rukuk dan memberitahukan dirimu. Demi Allah SWT. kalau bukan karena takut mengabaikan tugas penjagaan yang diperintahkan Rasulullah SAW. kepadaku niscaya nafasku akan berhenti sebelum aku membatalkan shalat”.

Kesetiaan Memenuhi Seruan Dakwah Indikasi Sikap Militan Kader
Perjalanan dakwah bukanlah perjalanan yang banyak ditaburi oleh bunga dan permaidani. Ia merupakan perjalanan panjang yang penuh tantangan dan rintangan berat. Telah banyak kita dapati sejarah orang-orang terdahulu yang telah merasakan perjalanan dakwah ini. Ada yang siksa, ada pula yang harus meninggalkan kaum kerabatnya ada pula yang diusir dari kampung halamannya. Dan sederetan kisah perjuangan lainnya yang banyak tersebar bukti dari pengorbanannya dalam jalan dakwah ini. Mereka telah merasakan dan sekaligus membuktikan cinta dan kesetiaan mereka terhadap dakwah.
Abu Musa Al Asy’ari dan para sahabat lainnya -ra- telah merasakannya, hingga kaki-kaki mereka pecah dan kukunya tercabut. Namun mereka harungi perjalanan itu tanpa mengeluh sedikit pun. Bahkan mereka malu untuk menceritakannya karena keikhlasan mereka dalam perjuangan ini. Keikhlasan membuat mereka gigih dalam pengorbanannya dan menjadi tinta emas sejarah umat dakwah ini.
Pengorbanan yang telah mereka berikan dalam perjalanan dakwah ini menjadi suri tauladan pada generasi sesudahnya. Karena saham yang telah mereka sumbangkan bagi dakwah ini tumbuh mekar dan mengeeluarkan hasilnya dengan gemilang. Kawasan Islam telah tersebar ke seluruh pelosok dunia. Umat Islam telah bertambah dalam jumlah besar. Semua itu karunia yang diberikan Allah SWT. melalui kesungguhan dan kesetiaan mereka para pendahulu dakwah ini. Semoga Allah meridhai mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya..
Mereka telah mengalami langsung apa yang difirmankan Allah SWT. dalam QS.
At Taubah 9:42:
Mereka juga telah melihat siapa-siapa yang dapat bertahan dalam mengarungi perjalanan yang berat itu. Hanya kesetiaanlah yang dapat tabah meniti perjalanan dakwah ini. Kesetiaan yang menjadikan pemiliknya sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian. Menjadikan mereka optimis menghadapi kesulitan dan siap berkorban untuk meraih kejayaan. Kestiaan yang menghantarkan jiwa-jiwa patriotik untuk berada pada barisan terdepan dalam perjuangan ini. Kesetiaan yang membuat pelakunya berbahagia dan sangat menikmati beban hidupnya. Setia dalam kesempitan dan kesukaran demikian pula setia dalam kelapangan dan kemudahan.
Sebaliknya orang-orang yang rentan jiwanya dalam perjuangan ini tidak akan dapat bertahan lama. Mereka mengeluh atas beratnya perjalanan yang mereka tempuh. Mereka pun menolak untuk menunaikannya dengan berbagai macam alasan agar mereka diizinkan untuk tidak ikut. Mereka pun berat hati berada dalam perjuangan ini dan akhirnya berguguran satu persatu sebelum mereka sampai pada tujuan perjuangan. Penyakit wahan telah menyerang mental mereka yang rapuh sehingga mereka tidak dapat menerima kenyataan pahit sebagai risiko dan sunnah dakwah ini. Malah mereka menggugatnya lantaran anggapan mereka bahwa perjuangan dakwah tidaklah harus mengalami kesulitan.
(QS. At Taubah 9: 45 – 46)
Kesetiaan merupakan tanda sikap militan kader dakwah. Sikap ini membuat mereka stand by menjalankan tugas yang terpikul di pundaknya. Mereka pun dapat menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Bila ditugaskan sebagai prajurit terdepan dengan segala akibat yang akan dihadapinya ia senantiasa berada pada posnya tanpa ingin meninggalkannya sekejap pun. Atau bila ditempatkan pada bagian belakang maka ia pun akan berada pada tempatnya tanpa berpindah-pindah. Sebagaimana yang disebutkan Rasulullah SAW. dalam beberapa riwayat tentang tentera yang baik.
Abdul Fattah Abu Ismail Rahimahullah ialah salah seorang murid Imam Hasan Al Banna yang selalu menjalankan tugas dakwahnya tanpa keluhan sedikit pun.. Dialah yang disebutkan Hasan Al Banna, orang yang bila pulang dari tempat bekerja sudah berada di kota lain untuk memberikan ceramah kemudian berpindah tempat lagi untuk mengisi pengajian dari waktu ke waktu secara maraton. Ia selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain untuk menunaikan amanah dakwah. Sesudah menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya ia merupakan orang yang pertama kali datang ke tempatnya bekerja malah ia yang membukakan pintu pejabatnya.
Pernah ia mengalami keletihan hingga tertidur di sofa rumah Zainab Al Ghazali. Melihat keadaan tubuhnya yang lelah dan penat itu, tuan rumah membiarkan tamunya tertidur sampai bangun. Setelah menyampaikan amanah untuk Zainab Al Ghazali, Abdul Fattah Abu Ismail segera untuk ke kota lainnya. Karena keletihan yang dialaminya, Zainab Al Ghazali memberikan belanja untuk naik teksi. Abdul Fattah Abu Ismail mengembalikannya sambil mengatakan “Dakwah ini tidak akan dapat dipikul oleh orang-orang yang manja”. Zainab pun menjawab: “Saya sering ke mana-mana dengan teksi dan kereta mewah tapi saya tetap dapat memikul dakwah ini dan saya pun tidak menjadi orang yang manja terhadap dakwah, karena itu pakailah duit ini, tubuhmu letih dan engkau memerlukan rehat sejenak”. Ia pun menjawab, “Berbahagialah ibu, ibu telah berhasil menghadapi ujian Allah SWT. berupa kenikmatan-kenikmatan itu. Namun saya khuatir saya tidak dapat menghadapinya sebagaimana sikap ibu, terima kasih atas kebaikan ibu, biarlah saya naik public transport saja”.

Keyakinan pada janji-janji Allah SWT.
Orang-orang yang telah membuktikan kesetiaannya pada dakwah lantaran keyakinan mereka terhadap janji-janji Allah SWT. Janji yang tidak akan pernah dimungkiri sedikitpun. Allah SWT. telah banyak memberikan janji-Nya pada orang-orang yang beriman yang setia pada jalan dakwah ini berupa berbagai anugerah-Nya. Sebagaimana yang terdapat dalam Al Qur’an. (QS. Al Anfal: 29)

Dengan janji Allah SWT. tersebut orang-orang beriman tetap bertahan mengarungi jalan dakwah ini. Dan mereka pun tahu bahwa perjuangan yang berat itu sebagai kunci untuk mendapatkannya. Semakin berat perjuangan ini semakin besar janji yang diberikan Allah SWT. kepadanya. Kesetiaan yang bersemayam dalam diri mereka itulah yang membuat mereka tidak akan pernah menyalahi janji-Nya dan mereka pun tidak akan pernah mau merubah janji kepada-Nya. (QS. Al Ahzab: 23)

Kesabaran Modal Kesetiaan
Kader dakwah sangat menyakini bahwa kesabaran yang ada pada dirinya yang membuat mereka kuat menghadapi berbagai rintangan dakwah. Bila dibandingkan apa yang kita lakukan serta yang kita dapatkan sebagai risiko perjuangan di hari ini dengan keadaan orang-orang terdahulu dalam perjalanan dakwah ini belumlah seberapa.
Pengorbanan kita di hari ini masih hanya terhad pada pengorbanan waktu untuk dakwah. Pengorbanan tenaga dalam amal kebajikan untuk kepentingan dakwah. Pengorbanan sebagian kecil dari harta kita yang masih banyak jika dibandingkan dengan penggunaan lain.. Dan bentuk pengorbanan remeh-remeh lainnya yang telah kita lakukan.
Coba lihatlah pengorbanan orang-orang terdahulu, ada yang disikat dengan sikat besi, ada yang digergaji, ada yang diikat dengan empat ekor kuda yang berlawanan arah lalu kuda itu dipukul untuk lari sekencang-kencang hingga robeklah orang itu. Ada pula yang dibakar dengan tungku yang berisi minyak panas. Mereka dapat menerima risiko karena kesabaran yang ada pada dirinya.
Kesabaran sebagai kuda-kuda pertahanan orang-orang beriman dalam meniti perjalanan ini. Bekal kesabaran mereka tidak pernah berkurang sedikit pun karena keikhlasan dan kesetiaan mereka pada Allah SWT.
(QS. Ali Imran: 146)
Bila kita memandang kehidupan generasi pilihan, kita akan temukan kisah-kisah hebat dan cemerlang yang telah menyuburkan dakwah ini. Muncullah pertanyaan besar yang harus kita tujukan pada diri kita saat ini. Apakah kita dapat menyemai dakwah ini menjadi subur dengan perjuangan yang kita lakukan sekarang ini ataukah kita akan menjadi generasi yang hilang dalam sejarah dakwah ini.
Ingat, dakwah ini tidak akan pernah dapat dipikul oleh orang-orang yang manja. Ketahanan dan kesanggupan susah kader merupakan kendaraan yang akan menghantarkan kepada kesuksesan dakwah ini.
Wallahu ‘alam

Advertisements

One thought on “Dakwah bukan utk orang manja…..

    umm mujahid said:
    September 9, 2008 at 6:20 am

    Assalamualaykum wrt ..

    Masya’Allah , ia hadir bagai titis-titis embun yg menyegarkan taman yg kering & kontang .

    jazakillah ukthi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s